Travelgraf

Travel Guide Info

Amanjiwo, Destinasi Untuk Para Penikmat Ketenangan

Travelgraf – Tidak terasa tahun baru 2021 sudah berlalu jauh. Lelah? Sudah pasti. Tahun ini memang masih begitu sarat akan ketakutan, rasa khawatir, cemas, dan berita negatif yang hampir setiap hari kita dengar seputar pandemi Covid-19.

Rasanya kita berhak mendapat kembali momen untuk membuka lembaran baru di tahun 2021 mendatang dengan rasa bahagia dan optimis. Travelgraf memilih Amanjiwo sebagai leisure pilihan akhir tahun bagi Anda yang mencari momen yang tenang bersama rengkuhan alam.

Kondisi pandemi yang masih terjadi hingga kini memang tidak memungkinkan untuk berkumpul merayakan tutup tahun dalam keramaian. Namun, menciptakan momen spesial bersama pasangan atau keluarga inti di sebuah tempat yang tersembunyi, boleh jadi pilihan.

Amanjiwo, Destinasi Akhir Tahun Pilihan CASA Indonesia

 Amanjiwo (Foto: dok. Amanjiwo)

Perpustakaan di area lobby Amanjiwo (Foto: dok. Amanjiwo)

Berlokasi di Magelang, Amanjiwo dapat dijangkau selama kurang lebih satu jam berkendara dari bandara internasional Yogyakarta yang baru di Kulon Progo. Sejak saat mendarat, keindahan pantai selatan Jawa seakan ikut menyambut pelesir  ke Amanjiwo beberapa waktu lalu.

Perasaan gugup dan semangat bercampur karena merupakan perjalanan pertama kali sejak masa pandemi terjadi. Hamparan sawah, bukit hijau, dan langit biru menjadi lukisan alam yang membawa kita hingga sampai ke Amanjiwo.

Memasuki area lobby, tampak dari kejauhan bentuk stupa yang merupakan ikon dari arsitektur Amanjiwo karya arsitek Ed Tuttle. Bicara arsitektur Amanjiwo, bentuknya memang terinspirasi dari Candi Borobudur yang lokasinya dapat terlihat jelas dari bagian dalam resor. Bentuknya melingkar dengan deretan kamar suites di bawahnya berbatas permadani sawah hijau.

Amanjiwo sendiri memiliki fasilitas 36 suites yang sangat luas dengan beragam tipe seperti garden suites, pool suites, dan Borobudur suites yang baru saja direnovasi dengan penerapan smart technology di dalamnya. Interior Amanjiwo ditangani oleh mendiang desainer Jaya Ibrahim dengan dinding kayu sungkai berukir serta rangkaian furnitur dari kayu kelapa dan rotan.
Sementara di bagian tengah terdapat tempat tidur king size dengan langit-langit tinggi serta bukaan serba luas yang memperlihatkan eksotisme alam di sekitarnya. Yang menarik, tidak ada TV di dalam suites Amanjiwo sesuai konsep keheningan yang disajikan. Namun bila Anda menginginkannya, bagian room service akan menyiapkan TV lengkap dengan saluran internasional.

Restoran utama di dalam Amanjiwo (Foto: dok. Amanjiwo)

Interior suite Amanjiwo (Foto: dok. Amanjiwo)

Borobudur pool suite (Foto: dok. Amanjiwo)

Salah satu fasilitas primadona di Amanjiwo adalah Dalem Jiwo, vila privat yang memiliki pintu masuk pribadi dengan bentuk arsitektur seperti bangunan utama. Terdapat stupa rotunda di bagian tengah sebagai area makan dan berkumpul, dua vila di sisi kanan dan kiri, dan private pool sepanjang 15 meter yang menjorok hingga ke tengah persawahan. It’s a wow.

Ya, Amanjiwo memang tentang jiwa yang aman. Jiwa yang tentram. Jiwa yang mencari keharibaan alam dan membuang jauh-jauh kekotoran ibu kota. Itu yang memang dirasakan selama ‘tinggal’ di Amanjiwo. Rasanya diri ini seperti ingin melepaskan segala cemas dan penat akibat pandemi yang terjadi. Oleh karena itu memilih untuk mengikuti beberapa aktivitas yang lekat dengan alam.

Melihat momen sunrise di Candi Borobudur merupakan sajian favorit Amanjiwo bagi setiap tamunya. Namun, karena pandemi, kawasan wisata Candi Borobudur masih ditutup untuk umum sehingga beralih untuk menikmati sunrise dari kawasan Puncak Bukit Dagi.

Pemandangan sunrise dari Puncak Bukit Dagi (Foto: dok. CASA Indonesia)

Menikmati sarapan pagi di tepi sungai di desa Progo (Foto: dok. CASA Indonesia)

Suasana santap malam di rumah Pak Bilal (Foto: dok. Amanjiwo)

Seperti tersihir dan menemukan permata, ternyata inilah tempat yang begitu sempurna untuk menyaksikan sunrise di kawasan Candi Borobudur. Dari kejauhan, pendar emas sang fajar membiaskan keindahan puncak stupa Candi Borobudur diiringi kabut yang turun perlahan dari puncak-puncak bukit. Nyanyian alam dan aroma pagi sekali lagi membilas jiwa dalam diam. Hanya ucapan syukur dan takjub yang sanggup keluar.

Usai dari Puncak Bukit Dagi, mencicipi sarapan pagi di tepi sungai di pedesaan Progo. Deru air sungai dan gemericik di jeram-jeram air dan tawa anak-anak desa mengembalikan secercah senyum manis di pagi itu dengan ‘bekal’ yang telah disiapkan Amanjiwo dengan begitu sempurna. Breakfast with a view, literally…

Malam harinya bertandang ke rumah Pak Bilal untuk santap malam. Lokasinya dekat dengan Candi Mendut dan hanya sekitar 5 menit dari Amanjiwo. Menyantap hidangan makan malam saat itu begitu berbeda rasanya.

Seakan pulang ke kampung halaman, dapur Pak Bilal yang masih sangat tradisional justru membawa kenangan–kenangan akan masa lalu khas Jawa. Menu yang disajikan pun tidak ‘lari’ dari suasananya; masakan rumah yang biasa disajikan di rumah nenek dengan perapian tungku dan kendil gerabah.

Main swimming pool di Amanjiwo (Foto: dok. Amanjiwo)

Kembali ke resor, kembali menghabiskan malam sambil menikmati hembus angin di bale-bale di teras suite yang luas. Sunyi, suara jangkrik, gesekan daun, dan lantunan gamelan sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Rasanya tepat bila Amanjiwo menjadi destinasi akhir tahun pilihan. Terutama bagi Anda yang ingin menyesap keheningan dan menikmati momentum perenungan diri bersama orang tercinta.

Rasa kahawatir pun hilang karena Amanjiwo begitu ketat menjaga protokol kesehatan di dalam resor dan sangat menjaga alur orang yang lalu lalang sehingga jarak tetap terasa aman dan nyaman. Pada akhirnya, Amanjiwo memang untuk jiwa-jiwa yang tenang.



close